Pernahkah
Anda melihat rumah mewah dari luar, dengan cat baru yang berkilau dan taman
tertata indah, tetapi begitu melangkah masuk, plafon bocor, pipa berkarat, dan
lantai retak? Itulah analogi paling sederhana yang menggambarkan isi buku Republik
Rapuh: Potensi Indonesia Bubar 2030.
Membaca
buku ini membuat saya merasa seperti dipaksa bercermin tanpa filter. Tidak ada
polesan manis, tidak ada euforia nasionalisme kosong. Yang tersisa hanyalah
wajah kita apa adanya: bangsa besar yang sering menghibur diri dengan kebesaran
masa lalu, tapi kerap melupakan kelemahan yang nyata hari ini.
Sejak
awal, penulis menghadirkan sebuah lelucon pahit yang sering beredar: “Indonesia
terlalu kuat untuk maju, tetapi terlalu rapuh untuk runtuh.” Awalnya saya
tertawa getir, tapi semakin dalam membaca, semakin sadar bahwa kalimat itu
bukan sekadar lelucon—melainkan potret realitas yang kita jalani.
Apakah
benar Indonesia bisa bubar 2030? Pertanyaan itu menggantung sepanjang buku.
Bukan dalam arti ramalan apokaliptik, melainkan sebagai peringatan: bila pola
hari ini terus dibiarkan, keruntuhan itu bukan lagi hal mustahil.
Menariknya,
penulis tidak menyajikan ancaman itu dengan gaya akademik kaku atau tumpukan
data statistik yang dingin. Ia menulis dengan analogi tajam, kisah yang
relatable, dan sindiran yang justru menohok lebih keras daripada angka.
Misalnya,
saat menjelaskan tentang demokrasi. Kita kerap bangga disebut sebagai demokrasi
terbesar ketiga di dunia. Namun, penulis menyamakan kebanggaan itu dengan
murid yang girang karena nilai olahraganya bagus, padahal gagal di pelajaran
inti. Demokrasi kita tampak indah di mata luar, tapi di rumahnya sendiri,
rakyat sering merasa suaranya tak pernah sampai ke telinga penguasa.
Saya
terdiam lama membaca bagian itu. Betapa sering kita bangga dengan label
internasional, tapi menutup mata pada kenyataan sehari-hari.
Fakta
lain yang mengejutkan muncul saat membicarakan ekonomi. Indonesia dikenal
sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Namun, fondasinya rapuh karena lebih
bertumpu pada utang dan konsumsi, bukan produksi dan inovasi. Analoginya
sederhana: seperti orang kaya yang hidup dari kartu kredit, tampak mewah tapi
sebenarnya menumpuk hutang.
Kondisi
ini makin terasa relevan ketika melihat betapa sering kebijakan ekonomi kita sekadar
tambal sulam. Harga cabai bisa membuat dompet rakyat terguncang, sementara
jargon besar tentang pertumbuhan ekonomi terus digembar-gemborkan.
Saya
jadi bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang berjalan di atas tanah
kokoh, atau hanya di atas papan kayu tipis yang bisa patah kapan saja?
Sekitar
sepertiga perjalanan buku, penulis membawa pembaca pada kenyataan pahit di
sektor pendidikan. Kata-kata yang digunakan begitu telak: “Indonesia lebih
sibuk mencetak ijazah ketimbang mencetak pengetahuan.”
Kalimat
itu menghantam saya pribadi. Betapa sering kita mengukur kesuksesan pendidikan
dari jumlah lulusan, bukan kualitas daya pikir. Di banyak kesempatan, ijazah
menjadi tiket sosial, bukan cermin kemampuan. Ironi ini yang membuat kita terus
tertinggal, meski memiliki bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan.
Pendidikan
kita ibarat pabrik, tapi pabrik yang mesin utamanya sudah usang. Hasil
produksinya banyak, tetapi kualitasnya tidak mampu bersaing.
Salah
satu bagian favorit saya justru ketika penulis berbicara tentang budaya politik
kita. Ia menggambarkan politik sebagai panggung sandiwara, dengan penonton yang
dipaksa tepuk tangan. Saya tertawa getir membacanya, karena terasa begitu
nyata.
Setiap
lima tahun sekali, panggung itu dihias megah dengan janji-janji manis. Namun,
usai pertunjukan, yang tersisa hanyalah kursi penonton yang kusam dan rakyat
yang pulang dengan perut kosong.
Saya
merasa seolah-olah menonton sinetron tanpa akhir: episode korupsi, episode
konflik, episode janji palsu. Dan ironisnya, kita bukan sekadar penonton—kita
adalah bagian dari cerita itu sendiri.
Salah
satu hook baru yang ditawarkan buku ini adalah konsep nostalgia sebagai candu.
Kita sering membanggakan kejayaan Majapahit atau semangat revolusi, seakan itu
cukup untuk menjamin masa depan.
Namun,
penulis menulisnya dengan lugas: “Nostalgia membuat kita percaya bahwa kita
pasti hebat, hanya karena kita pernah hebat.”
Ini
analogi yang menusuk. Sama seperti orang tua yang tak henti menceritakan
kegagahan masa mudanya, meski kini tubuhnya ringkih. Bangsa yang hanya hidup
dalam cerita heroik masa lalu, tanpa menatap masa depan dengan serius, hanyalah
bangsa yang menipu diri sendiri.
Di
pertengahan buku, saya menemukan bagian yang paling reflektif. Penulis
menggambarkan bangsa ini seperti pasien yang sudah lama sakit, tapi terus
menunda pergi ke dokter. Kita tahu tubuh ini rapuh, tapi kita tetap berkata,
“Ah, masih bisa kok jalan.” Padahal, suatu hari penyakit itu bisa meledak tanpa
peringatan.
Pertanyaannya
jadi sederhana, namun menggetarkan: apakah kita siap ketika masa depan datang
lebih cepat daripada yang kita kira?
Buku
ini tidak hanya penuh kritik, tapi juga penuh cinta. Cinta yang jujur, cinta
yang tidak selalu manis. Seperti seorang sahabat yang berani menegur keras
karena peduli, penulis ingin kita berhenti berpura-pura.
Salah
satu kalimat yang membekas bagi saya adalah: “Hubungan kita dengan Indonesia
tidak boleh hanya didasarkan pada kebanggaan buta. Ia harus berisi keberanian
untuk mengkritik, memperbaiki, bahkan untuk marah.”
Membaca
kalimat itu, saya merasa buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan undangan.
Undangan untuk berhenti jadi penonton, berhenti jadi penghibur diri, dan mulai
menjadi aktor dalam cerita bangsa.
Di
bagian penutup, buku ini memberikan pilihan yang sederhana tapi berat: apakah
kita ingin dikenang sebagai bangsa yang jatuh karena kebodohannya sendiri, atau
sebagai bangsa yang berhasil melawan nasibnya?
Pertanyaan
itu menempel di kepala saya hingga kini. Sebab, masa depan tidak menunggu kita
siap. Ia akan datang, entah kita sudah berbenah atau tidak.
Dan
2030 hanyalah angka. Yang penting adalah pola hari ini: apakah kita masih sibuk
menutup luka dengan perban, atau berani menjalani operasi besar?
Sebagai
pembaca, saya merasa buku ini adalah tamparan yang menyakitkan sekaligus
penyemangat. Tamparan karena menguak kebodohan yang sering kita anggap biasa.
Penyemangat karena memberi harapan bahwa bangsa ini masih bisa berubah, asalkan
kita berhenti menunda.
Bagi
saya pribadi, Republik Rapuh: Potensi Indonesia Bubar 2030 adalah bacaan
wajib bagi siapa pun yang mencintai negeri ini. Tidak untuk membuat kita
pesimis, melainkan agar kita berhenti tertipu ilusi.
Kalau
Anda ingin membaca buku yang bisa membuat dada sesak, mata terbuka, sekaligus
hati tergerak, jangan lewatkan buku ini. Jangan sampai Anda hanya jadi penonton
dalam drama bangsa yang terus berulang.
Mungkin,
inilah saatnya kita memutus siklus. Inilah saatnya bercermin tanpa filter,
meski wajah yang kita lihat penuh noda.
Bacalah
Republik Rapuh: Potensi Indonesia Bubar 2030. Percayalah, Anda akan
sulit menutupnya tanpa merenung panjang.
Link
pembelian: http://lynk.id/pdfonline/3891zzdd0y7x/checkout
#RepublikRapuh
#Indonesia2030 #LiterasiKritis #BangsaBercermin #KritikMembangun #arahwaktu
