Chat dengan Dewa
Aku: Bisa nggak aku jadi abadi?
Dewa: Bisa. Tapi kamu harus berhenti menginginkannya.
Aku: Kalau aku berhenti menginginkan, kenapa aku butuh keabadian?
Dewa: Nah, kau sudah hampir abadi.
Ulasan
“Chat dengan Dewa” adalah dialog kecil yang mengandung ironi besar: bahwa
keabadian bukan soal waktu hidup yang tak berujung, tetapi soal kedamaian yang
begitu utuh hingga keinginan pun menjadi hal yang tak lagi dibutuhkan. Cerita
ini memutarbalikkan konsep besar dengan cara yang sangat sederhana—sebuah
percakapan singkat, hampir seperti chat WhatsApp, namun sarat filsafat yang
lazimnya ditemukan dalam teks klasik spiritual.
Pertanyaan pertama yang diajukan manusia adalah pertanyaan universal: “Bisa
nggak aku jadi abadi?”
Pertanyaan yang sama telah menghantui manusia sejak sejarah dimulai. Namun
jawaban Dewa justru membongkar kontradiksi mendasar dalam diri manusia: kita
menginginkan keabadian, tetapi pada saat yang sama hidup kita dipenuhi
kecemasan, kerinduan, dan ketidakpuasan. Keinginan itu sendiri yang membuat
manusia terperangkap dalam kefanaan.
Jawaban Dewa—“Bisa. Tapi kamu harus berhenti menginginkannya.”—adalah
kritik tajam sekaligus jawaban zen yang hampir terdengar seperti teka-teki.
Dewa seolah mengatakan bahwa manusia akan menjadi abadi ketika ia tidak lagi
terikat oleh keinginan, ketakutan, ambisi, atau penolakan terhadap kefanaan.
Keabadian adalah keadaan batin, bukan durasi biologis.
Pertanyaan balasan sang manusia—“Kalau aku berhenti menginginkan, kenapa
aku butuh keabadian?”—adalah puncak ironi. Ketika seseorang berhenti
mengejar abadi, barulah ia benar-benar mendekati bentuk abadi paling murni:
ketenangan. Dan ketika Dewa berkata, “Nah, kau sudah hampir abadi,” di
situ letak humor lembut dan kearifan halus cerita ini.
Cerita ini tampak ringan, namun mengandung kedalaman spiritual, psikologis, dan filosofis. Ia mengingatkan kita bahwa keinginan yang tak pernah berhenti adalah sumber penderitaan, dan bahwa mungkin keabadian bukan sesuatu yang perlu dicari—melainkan sesuatu yang muncul ketika kita berhenti berlari. Inilah kekuatan Mythic Absurd Flash: mengubah percakapan lucu menjadi refleksi yang mengikuti pembaca jauh setelah bacaan selesai.
Serial Baru Setiap Minggu
Serial Mythic Absurd Flash akan hadir setiap minggu,
menyuguhkan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan potongan-potongan cerita yang
singkat namun memancing renungan panjang.
Untuk menikmati lebih dari 100 cerita dalam versi
penuh—dengan alur yang lebih rapi, penyuntingan lebih bersih, dan pengalaman
membaca yang jauh lebih elegan—Anda bisa mendapatkan bukunya sekarang.
Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash fiction paling
berkelas dan unik dalam literatur Indonesia modern.
👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout
