Pernahkah kamu merasa hidup ini
seperti lomba lari tanpa garis akhir? Kita berlari setiap hari, mengejar
target, tuntutan sosial, bahkan ekspektasi diri yang terasa tak ada habisnya.
Namun, di tengah kebisingan itu, ada sebuah pertanyaan yang kerap saya tanyakan
pada diri sendiri: apakah semua ini sepadan jika jiwa kita kehilangan
tenang?
Buku Menemukan Ketenangan
hadir bukan sebagai teori kaku, melainkan sebagai teman bicara yang pelan-pelan
menyadarkan saya bahwa kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan, tapi
fondasi hidup yang seimbang. Dari halaman pertama, saya sudah disambut dengan
kalimat yang menohok: “Kesehatan mental bukan hanya perjalanan individu,
melainkan perjalanan kolektif.” Kalimat sederhana ini mengguncang, karena saya
tersadar betapa sering kita menganggap urusan batin hanya tanggung jawab
pribadi, padahal ia menular ke orang-orang terdekat kita.
Hook ini mengingatkan saya pada
fakta mengejutkan yang dipaparkan dalam buku: satu dari empat orang dewasa
pernah mengalami masalah kesehatan mental dalam hidupnya. Itu berarti, dalam
lingkaran pertemanan atau keluarga kita, selalu ada seseorang yang berjuang di
balik senyum atau keheningannya.
Buku Menemukan Ketenangan
membawa kita menelusuri sisi-sisi rapuh manusia dengan cara yang hangat dan
praktis. Ia tidak berhenti di tataran definisi, melainkan mengurai stres,
kecemasan, dan pikiran negatif seperti benang kusut yang perlahan dijelaskan.
Ada bab khusus yang membahas dampak stres kronis, yang ternyata bisa
meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, hingga depresi. Saya sempat
berhenti membaca, menarik napas panjang, dan berkata dalam hati: ternyata
tubuh kita tidak pernah bisa membohongi apa yang dirasakan jiwa.
Saya suka bagaimana buku ini
membandingkan stres dengan alarm kebakaran. Alarm itu memang berguna, memberi
tanda bahaya. Tapi jika terus berbunyi tanpa henti, ia justru merusak rumah
dari dalam. Analogi ini begitu jenius, karena kita sering merasa stres adalah
tanda kegagalan, padahal ia hanyalah sinyal yang perlu direspons dengan bijak.
Kata kunci seperti cara mengatasi
stres dan menemukan ketenangan dalam hidup diselipkan secara alami
di dalam pembahasan buku ini, seakan penulis tahu apa yang kita cari di mesin
pencari internet, tapi disampaikan dengan gaya yang hangat dan personal.
Ada bagian yang membuat saya
tertegun, saat buku ini menekankan pentingnya mindfulness. Bukan sekadar
duduk bermeditasi, melainkan hadir penuh dalam setiap momen, entah saat makan,
berjalan, atau sekadar mendengar teman bercerita. Saya mencobanya langsung:
pagi itu, saya minum kopi tanpa membuka ponsel. Rasanya seperti saya
benar-benar minum kopi untuk pertama kalinya. Aroma, rasa, dan kehangatan
cangkir di tangan terasa jauh lebih nyata.
Buku ini seolah mengingatkan bahwa menemukan
ketenangan bukanlah lari ke gunung atau pantai jauh, melainkan kemampuan
membawa diri hadir di sini, sekarang.
Dan menariknya, buku ini tidak
berhenti pada teori. Ia memberi “toolbox” praktis: teknik pernapasan,
journaling, hingga praktik bersyukur tiga hal kecil setiap hari. Awalnya terasa
sederhana, bahkan terlalu sederhana. Tapi ketika saya melakukannya, efeknya
luar biasa. Saya lebih mudah tidur, lebih sabar menghadapi pekerjaan, dan yang
terpenting—lebih ramah pada diri sendiri.
Setiap 200 halaman terasa ada irama
baru yang membuat pembaca tidak bosan. Kadang ada data ilmiah, kadang ada
analogi kehidupan, lalu tiba-tiba refleksi filosofis. Misalnya, buku ini
menekankan bahwa self-care bukan egoisme, melainkan tanggung jawab.
Membaca bagian ini, saya teringat pada pengalaman pribadi: dulu saya sering
merasa bersalah ketika menolak ajakan orang lain. Namun setelah mempraktikkan
prinsip batas sehat yang dijelaskan dalam buku, saya belajar bahwa berkata
“tidak” adalah bentuk kasih sayang untuk diri sendiri.
Kesehatan mental ternyata seperti
menabung. Setiap tindakan kecil—olahraga ringan, tidur cukup, bersyukur,
berbagi cerita dengan teman—adalah investasi yang akan menjaga kita di masa
depan.
Yang membuat saya benar-benar jatuh
hati pada Menemukan Ketenangan adalah gaya bahasanya yang tidak
menggurui. Ia seperti seorang teman yang bercerita sambil berjalan bersama
kita. Kadang ia memeluk lewat refleksi, kadang menepuk bahu lewat data, dan
kadang menantang dengan pertanyaan tajam: “Apa yang sebenarnya kamu
cari—keberhasilan atau kedamaian?”
Pertanyaan ini membekas. Selama ini
saya merasa pencapaian adalah bukti eksistensi. Tapi buku ini menyingkap
perbandingan menarik: kebahagiaan itu seperti kembang api—indah, tapi cepat
padam. Ketenangan, sebaliknya, adalah cahaya lilin—hangat, stabil, dan tahan
lama.
Saya merenung lama pada perbandingan
ini. Ternyata, selama ini saya sibuk mengejar kembang api, padahal lilin
sederhana sudah cukup untuk menerangi jalan.
Artikel ini tentu tidak bisa
merangkum seluruh kekayaan isi buku. Ada bab tentang pentingnya dukungan
sosial, praktik bersyukur, hingga menjaga kesehatan fisik sebagai pondasi
mental yang sering kita remehkan. Semua itu ditulis dengan alur alami,
seolah-olah penulis mengerti pergulatan kita sehari-hari.
Buku Menemukan Ketenangan
bukan hanya bacaan, melainkan pengalaman. Ia membuat saya berhenti sejenak,
menutup halaman, lalu benar-benar melakukan apa yang ditulis di sana. Ia
mengubah cara saya melihat stres, memperkenalkan saya pada mindfulness, dan
membuat saya lebih berani menetapkan batas sehat.
Kini, setelah membaca buku ini, saya
menyadari bahwa ketenangan bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia adalah
keterampilan yang perlu dilatih, sama seperti otot yang menguat lewat latihan.
Dan jika kita tidak mulai hari ini, kita hanya akan semakin larut dalam pusaran
hidup yang melelahkan.
Pertanyaannya sekarang: apakah kamu
siap menemukan ketenanganmu sendiri?
Jangan tunggu tubuh dan pikiranmu
memberi alarm terakhir. Biarkan buku ini menjadi panduanmu untuk merawat jiwa, mengurangi
stres, dan menjalani hidup dengan mindfulness.
📖 Dapatkan Menemukan Ketenangan sekarang juga, dan
rasakan sendiri bagaimana hidup bisa lebih damai. Link pembelian: http://lynk.id/pdfonline/98pqwv9j1zqr/checkout
#arahwaktu #MenemukanKetenangan
#Mindfulness #SelfCare #KesehatanMental #CaraMengatasiStres #HidupLebihTenang
.jpg)