Serial Mythic Absurd Flash — Halaman 19

 



Teori Relativitas Cinta

Aku berkata padanya, “Kau memperlambat waktuku.”
Ia menjawab, “Atau mungkin aku hanya berjalan lebih cepat menuju yang lain.”
Einstein tertawa di kuburnya.
Akhirnya teori itu menemukan eksperimennya di Tinder.

Ulasan

“Teori Relativitas Cinta” adalah potongan cerita yang bermain-main dengan konsep fisika modern untuk menjelaskan sesuatu yang jauh lebih emosional: betapa subjektif dan lenturnya waktu dalam hubungan manusia. Dengan dialog yang sangat pendek namun penuh ironi, fragmen ini menunjukkan bagaimana cinta sering kali menjadi laboratorium tempat hukum-hukum logika membengkok tanpa permisi.

Kalimat pertama—“Kau memperlambat waktuku.”—menghadirkan nuansa romantis yang klasik. Ini adalah cara puitis untuk mengatakan bahwa kehadiran seseorang membuat hidup terasa lebih melambat, lebih penuh, lebih bermakna. Dalam fisika Einstein, gravitasi membelokkan waktu; dalam cinta, kehadiran seseorang bisa menciptakan efek yang sama.

Namun jawaban balasannya—“Atau mungkin aku hanya berjalan lebih cepat menuju yang lain.”—membalik seluruh romantisme dan menyuntikkan realitas pahit. Waktu memang relatif, tapi perasaan juga relatif: yang lambat bagi satu orang bisa saja cepat—bahkan terlalu cepat—bagi yang lain. Inilah inti ironi emosional: perbedaan persepsi menciptakan jurang yang tak terlihat tetapi dalam.

Masuknya Einstein dalam kalimat “Einstein tertawa di kuburnya” menjadi simbol humor filosofis. Bukan Einstein yang berubah, tetapi kenyataan cinta yang justru berhasil “menghidupkan” teori fisika dalam bentuk paling absurd: percintaan modern.

Dan ketika fragmen mengakhiri dengan kalimat “Akhirnya teori itu menemukan eksperimennya di Tinder.”, kita diseret ke dunia kontemporer—tempat hubungan terbentuk dan hancur secepat geseran jempol. Tinder menjadi laboratorium sosial paling nyata, tempat relativitas waktu, ketertarikan, dan keengganan bermain seperti variabel eksperimen yang liar.

Cerita ini tampak lucu, tetapi menyimpan kedalaman psikologis: betapa persepsi waktu dalam hubungan sangat ditentukan oleh harapan, kepedihan, dan arah langkah masing-masing orang. Waktu dalam cinta bukan angka, melainkan rasa—dan rasa itu dapat memanjang, memendek, bahkan habis begitu saja.

Inilah kekuatan Mythic Absurd Flash: memindahkan teori ilmiah besar ke ruang paling personal, lalu menjadikannya cermin bagi kekacauan emosional kita sendiri.

Serial Baru Setiap Minggu

Serial Mythic Absurd Flash akan hadir setiap minggu, menyuguhkan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan potongan cerita singkat yang meninggalkan gema renungan jauh setelah pembaca menutup halamannya.

Untuk menikmati lebih dari 100 cerita dalam versi penuh—dengan alur yang lebih rapi, penyuntingan lebih bersih, dan pengalaman membaca yang jauh lebih elegan—Anda bisa mendapatkan bukunya sekarang. Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash fiction paling berkelas dan unik dalam literatur Indonesia modern.

👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama