Teori Relativitas Cinta
Aku berkata padanya, “Kau
memperlambat waktuku.”
Ia menjawab, “Atau mungkin aku hanya berjalan lebih cepat menuju yang lain.”
Einstein tertawa di kuburnya.
Akhirnya teori itu menemukan eksperimennya di Tinder.
Ulasan
“Teori Relativitas Cinta” adalah
potongan cerita yang bermain-main dengan konsep fisika modern untuk menjelaskan
sesuatu yang jauh lebih emosional: betapa subjektif dan lenturnya waktu dalam
hubungan manusia. Dengan dialog yang sangat pendek namun penuh ironi, fragmen
ini menunjukkan bagaimana cinta sering kali menjadi laboratorium tempat
hukum-hukum logika membengkok tanpa permisi.
Kalimat pertama—“Kau memperlambat
waktuku.”—menghadirkan nuansa romantis yang klasik. Ini adalah cara puitis
untuk mengatakan bahwa kehadiran seseorang membuat hidup terasa lebih melambat,
lebih penuh, lebih bermakna. Dalam fisika Einstein, gravitasi membelokkan
waktu; dalam cinta, kehadiran seseorang bisa menciptakan efek yang sama.
Namun jawaban balasannya—“Atau
mungkin aku hanya berjalan lebih cepat menuju yang lain.”—membalik seluruh
romantisme dan menyuntikkan realitas pahit. Waktu memang relatif, tapi perasaan
juga relatif: yang lambat bagi satu orang bisa saja cepat—bahkan terlalu
cepat—bagi yang lain. Inilah inti ironi emosional: perbedaan persepsi
menciptakan jurang yang tak terlihat tetapi dalam.
Masuknya Einstein dalam kalimat “Einstein
tertawa di kuburnya” menjadi simbol humor filosofis. Bukan Einstein yang
berubah, tetapi kenyataan cinta yang justru berhasil “menghidupkan” teori
fisika dalam bentuk paling absurd: percintaan modern.
Dan ketika fragmen mengakhiri dengan
kalimat “Akhirnya teori itu menemukan eksperimennya di Tinder.”, kita
diseret ke dunia kontemporer—tempat hubungan terbentuk dan hancur secepat
geseran jempol. Tinder menjadi laboratorium sosial paling nyata, tempat
relativitas waktu, ketertarikan, dan keengganan bermain seperti variabel
eksperimen yang liar.
Cerita ini tampak lucu, tetapi
menyimpan kedalaman psikologis: betapa persepsi waktu dalam hubungan sangat
ditentukan oleh harapan, kepedihan, dan arah langkah masing-masing orang. Waktu
dalam cinta bukan angka, melainkan rasa—dan rasa itu dapat memanjang, memendek,
bahkan habis begitu saja.
Inilah kekuatan Mythic Absurd Flash: memindahkan teori ilmiah besar ke ruang paling personal, lalu menjadikannya cermin bagi kekacauan emosional kita sendiri.
Serial
Baru Setiap Minggu
Serial Mythic Absurd Flash
akan hadir setiap minggu, menyuguhkan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan
potongan cerita singkat yang meninggalkan gema renungan jauh setelah pembaca
menutup halamannya.
Untuk menikmati lebih dari 100
cerita dalam versi penuh—dengan alur yang lebih rapi, penyuntingan lebih
bersih, dan pengalaman membaca yang jauh lebih elegan—Anda bisa mendapatkan
bukunya sekarang. Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash
fiction paling berkelas dan unik dalam literatur Indonesia modern.
👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout
