Serial Mythic Absurd Flash — Halaman 20

 



Eksperimen Babel

Ilmuwan menciptakan AI yang bisa menerjemahkan semua bahasa.
Mereka menyalakan servernya, lalu seluruh umat manusia mulai saling memahami.
Sepuluh detik kemudian, mereka saling membunuh—karena akhirnya tahu maksud satu sama lain.

Ulasan

“Eksperimen Babel” adalah reinterpretasi modern dari mitos Menara Babel, tetapi dibalikkan dengan cara yang gelap, lucu, dan nyaris menggelitik sisi paling pahit dari kemanusiaan. Cerita ini memadatkan isu linguistik, teknologi, dan moralitas manusia ke dalam tiga kalimat pendek yang membangun ironi berlapis.

Premis awal—“Ilmuwan menciptakan AI yang bisa menerjemahkan semua bahasa”—terdengar seperti salah satu pencapaian terbesar umat manusia. Dalam anggapan banyak orang, pemahaman lintas bahasa adalah kunci perdamaian. Kita percaya bahwa konflik muncul karena salah paham, dan bahwa jika kita dapat memahami satu sama lain, dunia akan menjadi lebih baik.

Namun fragmen ini dengan cepat meruntuhkan idealisme tersebut. Ketika “seluruh umat manusia mulai saling memahami”, momen itu tampak seperti keajaiban. Tetapi justru di titik ini, absurditas sekaligus kenyataan pahit muncul: pemahaman tidak selalu membawa kedamaian.

Ledakan ironi terjadi pada kalimat penutup: “Sepuluh detik kemudian, mereka saling membunuh—karena akhirnya tahu maksud satu sama lain.”
Kalimat ini adalah satir yang tajam terhadap sifat manusia: bukan kurangnya pemahaman yang menjadi akar konflik, melainkan justru terlalu banyak pemahaman—terutama ketika maksud kita satu sama lain ternyata tidak sebaik yang kita bayangkan.

Di sini, Babel versi modern menjadi laboratorium moral: ketika bahasa bukan lagi penghalang, kegelapan tersembunyi dari pikiran manusia justru muncul tanpa filter. AI yang dimaksudkan untuk menjadi jembatan berubah menjadi cermin—dan manusia ternyata tidak siap untuk melihat refleksinya sendiri.

Cerita ini juga merupakan komentar filosofis tentang teknologi: bahwa alat yang paling canggih pun tidak bisa mengubah kondisi batin manusia. AI bisa menerjemahkan kata, tetapi tidak bisa menyucikan niat. Ia bisa membuka akses, tetapi tidak bisa memperhalus moral.

Humor gelap dalam fragmen ini menghidupkan Mythic Absurd Flash pada intinya: memadukan mitos kuno, sains modern, dan ironi eksistensial menjadi satu ledakan kecil refleksi yang tetap melekat lama setelah dibaca.

Serial Baru Setiap Minggu

Serial Mythic Absurd Flash hadir setiap minggu dengan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan potongan cerita singkat yang memancing renungan tanpa terasa menggurui.

Untuk menikmati lebih dari 100 cerita dalam versi penuh—dengan penyuntingan lebih bersih, susunan lebih rapi, dan pengalaman membaca yang jauh lebih elegan—Anda bisa mendapatkan bukunya sekarang. Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash fiction paling unik dan berkelas dalam literatur Indonesia modern.

👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama