Eksperimen Babel
Ilmuwan menciptakan AI yang bisa menerjemahkan semua bahasa.
Mereka menyalakan servernya, lalu seluruh umat manusia mulai saling memahami.
Sepuluh detik kemudian, mereka saling membunuh—karena akhirnya tahu maksud satu sama lain.
Ulasan
“Eksperimen Babel” adalah
reinterpretasi modern dari mitos Menara Babel, tetapi dibalikkan dengan cara
yang gelap, lucu, dan nyaris menggelitik sisi paling pahit dari kemanusiaan.
Cerita ini memadatkan isu linguistik, teknologi, dan moralitas manusia ke dalam
tiga kalimat pendek yang membangun ironi berlapis.
Premis awal—“Ilmuwan menciptakan
AI yang bisa menerjemahkan semua bahasa”—terdengar seperti salah satu
pencapaian terbesar umat manusia. Dalam anggapan banyak orang, pemahaman lintas
bahasa adalah kunci perdamaian. Kita percaya bahwa konflik muncul karena salah
paham, dan bahwa jika kita dapat memahami satu sama lain, dunia akan menjadi
lebih baik.
Namun fragmen ini dengan cepat
meruntuhkan idealisme tersebut. Ketika “seluruh umat manusia mulai saling
memahami”, momen itu tampak seperti keajaiban. Tetapi justru di titik ini,
absurditas sekaligus kenyataan pahit muncul: pemahaman tidak selalu membawa
kedamaian.
Ledakan ironi terjadi pada kalimat
penutup: “Sepuluh detik kemudian, mereka saling membunuh—karena akhirnya
tahu maksud satu sama lain.”
Kalimat ini adalah satir yang tajam terhadap sifat manusia: bukan kurangnya
pemahaman yang menjadi akar konflik, melainkan justru terlalu banyak
pemahaman—terutama ketika maksud kita satu sama lain ternyata tidak sebaik yang
kita bayangkan.
Di sini, Babel versi modern menjadi
laboratorium moral: ketika bahasa bukan lagi penghalang, kegelapan tersembunyi
dari pikiran manusia justru muncul tanpa filter. AI yang dimaksudkan untuk
menjadi jembatan berubah menjadi cermin—dan manusia ternyata tidak siap untuk
melihat refleksinya sendiri.
Cerita ini juga merupakan komentar
filosofis tentang teknologi: bahwa alat yang paling canggih pun tidak bisa
mengubah kondisi batin manusia. AI bisa menerjemahkan kata, tetapi tidak bisa
menyucikan niat. Ia bisa membuka akses, tetapi tidak bisa memperhalus moral.
Humor gelap dalam fragmen ini menghidupkan Mythic Absurd Flash pada intinya: memadukan mitos kuno, sains modern, dan ironi eksistensial menjadi satu ledakan kecil refleksi yang tetap melekat lama setelah dibaca.
Serial
Baru Setiap Minggu
Serial Mythic Absurd Flash
hadir setiap minggu dengan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan potongan cerita
singkat yang memancing renungan tanpa terasa menggurui.
Untuk menikmati lebih dari 100
cerita dalam versi penuh—dengan penyuntingan lebih bersih, susunan lebih rapi,
dan pengalaman membaca yang jauh lebih elegan—Anda bisa mendapatkan bukunya
sekarang. Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash fiction
paling unik dan berkelas dalam literatur Indonesia modern.
👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout
