Catatan Seorang Dewa Minor
Hari ke-1: Ciptakan sesuatu.
Hari ke-2: Sudah bosan.
Hari ke-3: Makhluk ciptaanku mulai menyembahku.
Hari ke-4: Aku takut mereka sadar aku juga kesepian.
Hari ke-5: Aku matikan semesta.
Hari ke-6: Nyalakan lagi, tapi lebih absurd.
Ulasan
“Catatan Seorang Dewa Minor” adalah
fragmen pendek yang membongkar konsep ketuhanan dengan gaya humor-metafisik
yang penuh ironi. Di sini, sosok “Dewa” bukan makhluk mahaagung yang tak
tersentuh, tetapi karakter yang sangat manusiawi: mudah bosan, canggung,
kesepian, impulsif, dan agak ceroboh dalam mengelola semesta.
Struktur harian yang ringkas seperti
jurnal pribadi membuat cerita ini terasa intim sekaligus satir. Pada Hari
ke-1, sang dewa memulai seperti pencipta manapun dalam mitologi: “Ciptakan
sesuatu.” Namun sejak Hari ke-2, absurditas langsung muncul—dengan cepat
ia “bosan”. Tuhan biasanya dipahami sebagai entitas sempurna, tak pernah
berubah, apalagi bosan. Tetapi di sini, sang dewa minor justru tampak seperti
seniman amatir yang kehilangan minat setelah menciptakan karya pertamanya.
Ketika Hari ke-3 menyebut
bahwa makhluk ciptaannya mulai menyembahnya, terdapat ironi besar yang
diperlihatkan secara lembut: bahwa penyembahan seringkali merupakan interpretasi
makhluk, bukan keinginan pencipta. Kesunyian berubah menjadi ketakutan pada Hari
ke-4: “Aku takut mereka sadar aku juga kesepian.”
Kesepian dewa menjadi inti cerita ini. Ia bukan maha tahu, tetapi justru takut
disorot oleh ciptaannya sendiri—takut bahwa mereka memahami kekurangannya.
Momen dramatis sekaligus komikal
terjadi pada Hari ke-5: sang dewa mematikan semesta seperti seseorang
mematikan komputer yang hang. Tidak ada tragedi kosmik, hanya klik sederhana
dari seorang penguasa minor yang tidak sabar. Dan pada Hari ke-6, ia
“menyalakan lagi, tapi lebih absurd.” Kalimat ini adalah satire mengenai siklus
kosmologi, kreativitas, dan kebosanan: bahwa semesta, bagi sang dewa minor,
adalah proyek seni yang terus direvisi.
Dalam cerpen sependek ini, tercermin tema besar: ketidaksempurnaan pencipta, absurditas keberadaan, dan betapa rapuhnya makna ketika permainan kosmik dikendalikan oleh sosok yang tidak lebih stabil dari manusia itu sendiri. Inilah kekuatan Mythic Absurd Flash: menjadikan konsep ilahi sebagai ruang untuk mempertanyakan eksistensi dengan humor yang membebaskan.
Serial
Baru Setiap Minggu
Serial Mythic Absurd Flash
hadir setiap minggu, menyuguhkan ironi-ilahi, humor eksistensial, dan potongan
cerita pendek yang menggugah refleksi panjang.
Untuk menikmati lebih dari 100
cerita penuh—dengan penyuntingan rapi, struktur lebih elegan, dan pengalaman
membaca yang lebih mendalam—Anda bisa mendapatkan bukunya sekarang.
Melewatkannya berarti melewatkan salah satu koleksi flash fiction paling unik
dalam dunia literatur Indonesia modern.
👉 Link Pembelian Buku:
http://lynk.id/pdfonline/eyvozn9l4nqd/checkout
